Monday, October 26, 2009

Ini takutku mana takutmu


Perjalanan ini masih panjang sobat-mungkin itu kata-kata yang ingin gw ucapkan untuk diri gw sendiri bila gw terbelah menjadi dua bagian yang saling melengkapi. hal-hal yang gw lakuin mungkin hanya bagian kecil dari potongan puzzle-puzzle yang mesti gw pasang ke dalam tempat-tempat yang tepat.

Jujur ini baru dua paragraph tulisan gw sudah tidak ada ide lagi buat menulis, kayaknya apa yang pengen gw tulis nggak sesuai dengan karakter yang ingin gw bangun. Karakter yang ingin gw bentuk dan gw sampaikan kepada dunia. wakakakakkakaka
Mungkin bagi sebagian orang puzzle-puzzle yang mereka mainkan terasa mudah karena mereka sudah memiliki pola yang digunakan, tapi bagi sebagian orang lagi menyambung potongan puzzle ini bukan hal yang mudah karena banyak tantangan yang harus dilewati dan belum menemukan pola yang tepat. Dan ada sebuah tantangan yang paling klasik yang gw ketahuin "KETAKUTAN"

Takut nggak sesuai, takut kalah, takut terbang (ini gw), takut menyakitin orang, takut menangung resiko, takut dikucilkan, takut terlalu ganteng. Itu mungkin beberapa ketakutan yang bisa gw sebutkan dan pasti masih banyak lagi yang lainnya.

"Gus jadi nggak balik ke palembang?" bokap gw nanyain status kepulangan gw.
"ehhhh, nggak tau juga nih liat aja nanti." gw dengan ragu-ragu menjawab
"Napa? emang nggak dapat tiket pesawat." bokap tercinta mulai interogasi
"Hmmm bukan sih, tiket pesawat sih ada." gw mulai menjawab jujur
"Terus kenapa?" bokap mulai sigap bertanya lagi
"Gw takut naik pesawat!" gw mulai menjawab jujur

dan bokap mulai tertawa puas dan bertanya gimana ntar mau ke luar negeri kalo takut naik pesawat? dan dia memberi saran tinggal tutup mata dan tidur :D

Cerita diatas memang benar adanya, bukan gw nggak pernah naik pesawat tapi gw memang benar-benar takut dengan ketinggian, ketinggian membuat gw parno ditambah goncangan dangdut di atas awan sana bersama pramugari yang montok dan sexy.

Sebenarnya ketakutan-ketakutan tersebut membentuk dan membangun pribadi seseorang. Semakin kita takut semakin kita membentuk karakter yang tidak kita inginkan. Dan lebih parahnya lagi ketakutan tersebut membuat seseorang menghapus semua mimpi dan anggan-anggan yang pernah di bangun dari kecil.

Kalo kita sadar perjalanan yang kita laluin sebenarnya berhubungan dengan melawan ketakutan yang ada, semakin berani kita menantang ketakutan kita semakin besar peluang kita untuk mencapai hal yang kita inginkan. Teori semakin besar resiko akan semakin besar hasil yang didapat itu memang benar adanya.

Teman saya pernah bilang "Ketika lo menantang ketakutan elo, lo akan merasakan sebuah adrenalin yang memacu elo untuk menjadi pecandu"

Wednesday, September 09, 2009

Emosimu adalah masalahmu

Bila disuruh mengenang sebuah lagu gw akan menjawab dengan enteng dewa - dan album arjuna mencari cinta, ebiet g ade, iwan fals dan G&R kesemua lagu itu memiliki kenangan ketika pertama kali gw mencari pertemanan di negeri sebrang. Jadul? nggak juga karena gw memang pencinta lagu-lagu lama.

Terus kalo lagu-lagu baru... hmmm jujurnya gw nggak tau artist ataupun judul lagu. Dari mulai lagu dangdut, keroncong, punk, metal ataupun mengaji gw suka, selama sesuai dengan kuping gw.

Surat cinta hmmm gw dulu pernah melakukan hal ini dan teman-teman gw bilang wah... lo jadul amat sih gus, kan dan ada telp dan sms. Tapi yah gw nikmatin itu.

"Ngomong elo kok belepetan gitu dan nggak jelas? lo sumatera minded sih " teman gw pernah bilang ke gw dengan entengnya

"Lo terlalu banyak makan pempek, mangkanya lapas bahasa inggris elo ngaco" guru gw pernah bilang hal yang selalu gw ingat sampai sekarang.

"Dandanan elo kok gitu amat, kampungan tau nggak, ayo kita besok ke FO" temen gw pernah bilang gitu.

"Va kasih tau agus, untuk ganti penampilan. Gayanya kok gitu amat sih!" Ibu mantan pacar pernah berseloroh.

Hmmm mungkin ada benarnya satu daerah dengan daerah lainnya memiliki budaya yang berbeda. "Dimana bumi dipijak disitu langit di junjung" mungkin benar adanya. Tapi selama anda nyaman kenapa tidak.

"Ci! ihh kampungan banget sih dengerin lagu SMS gitu, mana pake acara joget-joget nggak jelas lagi" sebuah personal opinion dari gw ke capcaibakar. Dan capcaibakar tetap mendengarkan lagu SMS ditambah jablai tanpa pernah terpengaruh sebuah personal opinion.

Gw ingat obrolan singkat gw
"Tulisan si icanx lucu." gw berkata
"Tulisan gw lucu dan teman-teman gw tertawa kok!" teman gw berujar
Dan beberapa saat kemudian kita bertiga membaca blog tersebut
"Biasa aja kok." Jawab gw
"Hmm, iya biasa aja" Temen gw satunya menjawab

Tiap orang punya taste masing-masing dan punya pendapat masing-masing. Tidak ada yang bilang strata, tidak ada yang bilang tingkatan itu semua cuma taste.

Semua orang punya personal opinion masih-masing, bila gw bilang make lagu buat ngerayu atau bikin puisi buat ngungkapin perasaan jadul, itu my personal opinion tanpa pernah bilang kalo lagu si iwan fals jadul *karena gw suka semua lagu iwan fals* ataupun menyerah pribadi si lagu.

Kalo gw bilang gw nggak suka lagu SMS dan bilang itu kampungan dan lebih suka lagu dangdut yang berkelas emangnya gw salah atau gw nggak suka sinetron emang gw salah lagi. Karena itu personal opinion gw dan kalo nggak suka personal opinion tinggal di bantah atau di skip. Toh gw punya selera juga dan gw yakin tiap orang punya selera beda-beda.

Bila kritik orang di anggap nggak sesuai dan nggak ngebangun tinggal skip dan bilang ke orangnya. Bila kata-kata orang kurang jelas coba di tanyakan lagi jangan ambil sebuah kesimpulan tanpa pernah bertanya.

Ahhh kayaknya sudah saatnya gw berbicara ke orang yang tidak menggunakan emosi tapi melihat dari sisi yang berbeda.

Gw memang programmer yang sudah 9 tahun hidup dan bersosialisasi di bandung dengan perubahan-perubahan yang ada, dan ketika seseorang butuh saran/pendapat gw akan berbicara blak-blakan, tapi bila pendapat dianggap sebuah duri mending tidak bertanya.

Seperti priyadi bilang blog adalah rumah masih-masing mau bilang apa dan menulis apa terserah, mau menyerang sebuah pribadi secara global juga silahkan dan lain kali berpikirlah lebih jauh sebelum menulis apapun.

Tuesday, September 08, 2009

Sebuah Teori Konspirasi


Setelah sekian lama berbuka puasa dan tidak memakan nasi sampai saur menjelang, hari ini gw makan juga. Walaupun dengan perasaan kurang berselera gw samperin juga si tukang ayam penyet dan memesan sebuah ayam penyet lengkap dengan sambel dan tahu *nggak penting yah*

Seperti biasa gw akan memesan sebuah ayam penyet pedas dan si capcaibakar hanya ayam penyet yang nggak pedas. Dan beberapa menit kemudian si makanan tiba dengan indahnya, sebuah ayam goreng di balut sambal dan di temani sebuah tahu bersama beberapa lalapan wijau daun.

Sentuhan pertama... "hmm kok sambelnya nggak pedas yah? dan sedikit asam. tomat nih!" otak gw mulai berkomunikasi dengan hati sanubari terdalam
Sentuhan kedua... "apa lidah gw yang kurang ajar yah...? tapi beneran nggak pedas!" otak dan batin mulai berantem
Sentuhan ketiga... "ok gw kasih aja ini ke capcaibakar!" si logika mulai ambil jalan tengah

Dan gw akhirnya memutuskan meminta kembali sambal yang baru.
"Mas bisa minta sambel lagi nggak ?" dengan sedikit senyum gw menyapa
"Was sambelnya abis nih, sambil menunjukkan tempat sambel yang dah abis." kata masnya
"Kenapa sih nggak bikin samble lagi... hiks." gw lagi males ngotot dan balik kanan ke tempat duduk

Tak berapa lama setelah gw sampai di kursi yang patah mematah dan menjadi kursi customer si mas-nya mulai mengulek si cabai dan teman-temannya menjadi sebuah sambal. Dan membuat si ayam cobek gw berbumbu kebencian.

"Pelanggan adalah raja", sebuah kalimat marketing yang sering terucap, mungkin nggak selalu tepat yang paling tepat pelanggan adalah marketing, bila pelanggan puas maka secara otomatis pelanggan akan me-marketing-kan secara tidak langsung. Bila memang sebuah layanan butuh charge lebih maka pelanggan akan dengan sukarela memberikan charge lebih demi sebuah kepuasan.

capcaibakar bilang ini mungkin hanya sebuah teori konspirasi untuk menjatuhkan selera makan gw.

Sunday, September 06, 2009

Semua Orang Tau Jawabannya


"Kenapa A, kok manyun gitu?" iyra si capcaibakar bertanya di sela acara makan tadi malam
"Setiap orang tau kan jawaban dari pertanyaan mereka?" gw balas bertanya tanpa memberikan jawaban yang pasti ke si capcaibakar
"Maksudnya?" dia kembali bertanya ke gw yang tetap cuek dengan pemikiran-pemikiran jeniusnya :)
"Iya, tentang semua masalah yang mereka hadapi." gw mulai kembali bangun dalam lamunan
"Yups... semua orang tau jawabannya tapi cuma takut keluar dari comfort zonenya" ujar capcai sambil melanjutkan minumnya
"Comfort zone itu berarti zona aman dan nyaman kan?" kembali pertanyaan nggak penting keluar seorang agus yang keren
"yups..." teryata si capcai cuma jawab singkat, sial...!

Tadi itu sebuah cerita obrolan gw dengan seorang capcaibakar, seorang blogger yang berusaha lulus kuliah dengan IPK tinggi tapi tetap nggak lulus-lulus. Sebuah obrolan singkat tentang hal-hal yang kadang dianggap tidak penting tapi cukup penting.

Semua orang pasti tau jawaban untuk semua masalah yang dihadapinnya, tapi terkadang dengan polosnya dan kadang tanpa dosa bertanya dengan orang lain untuk jawaban yang sebenarnya mereka tau. Seperti "gila perut gw buncit amat" atau "gimana sih supaya gw cepat kaya?" atau "gw kok nggak bisa kayak elo yah yang supel ceria dan banyak teman."

Hmmm apakah mereka males berpikir ataukah memang takut untuk keluar dari zona nyaman, aman dan biasa dilakukan. hmmm kayaknya besok gw mulai coba olahraga biar perut ini nggak buncit kayak orang hamil lagi.

Yups semua orang memang sudah tau.